Translate

My photo
sudah pasti isinya bukan kumpulan informasi dan tips, hanya berbagi cerita saja jika bermanfaat alhamdulilah jika menyinggung mohon maaf

Friday, August 14, 2015

Wisata Sejarah di Pulau Samosir


Ini cerita perjalanan 3 tahun lalu X_X ga update bingit yaa...maklum orang sibuk beb :P dan sekarang lagi peralihan jabatan membuat saya punya waktu luang di kantor sampai jobdesk jelasnya sudah ada.

Berawal dari undangan sertijab pengurus APP-KIEC di Sumatera Utara, bebo sih tadinya ngga akan datang karena masih cape pulang umroh tapi saya rayu dia biar mau memenuhi undangan itu kan biar bisa sekalian ikut ;) padahal selain baru pulang umroh, saya juga baru pulang dari Korea, Surabaya dan Bali. Badan waktu itu emang berasa ngga ada capenya. Akhirnya rayuan saya berhasil \:D/ berangkat dari Jakarta hari sabtu pagi sampai di Parapat sore hari menjelang maghrib, hampir seharian. Dari Sukarno Hatta ke Polonianya sih sebentar tapi dari polonia ke parapat berjam-jam, katanya kalau ngga pake mampir-mampir bisa 5 jam. Sementara rombongan kami pakai bis besar yang banyak mampirnya, makan siang menghabiskan waktu 1,5 jam kemudian dibawa mampir ke tempat oleh-oleh juga hampir menghabiskan waktu 1 jam, maklum banyak ibu-ibunya. Sampai di Parapat langsung nyebrang menggunakan kapal feri menuju tempat menginap.

sampai di parapat langsung nyebrang ke samosir
sunset Danau Toba saat perjalanan menuju hotel
Hotel sapo toba adalah tempat kami menginap, lumayan nyaman, luaaassss, dan berbukit tapi kamarnya agak serem mungkin karena bangunannya udah tua. Beruntung saya dapat kamar diatas, jadi bisa menikmati pemandangan danau toba dari jendela kamar maupun teras. Malam hari acara sertijab dimulai, saya terpaksa ikut gabung sampai selesai meskipun bukan pengurus soalnya takut kalau dikamar sendirian, ya minimal jadi tukang fotonya bebo.

Hotel Sapo Toba di Pulau Samosir
Sertijab 2013-2016
Pagi hari udaranya berasa sejuk banget, semua anggota tubuh ini rasanya seperti dimanjakan, paru-paru diberi udara bersih, telinga disuguhkan kicauan burung, mata disegarkan pohon-pohon hijau dan sunrise...what a fresh morning !!! alhamdulilah akhirnya saya bisa menginjakkan kaki juga di Danau Toba bahkan bermalam di tengah-tengah danau, melebihi mimpi saya. Puas menikmati udara pagi diteras kamar, kami bersiap untuk check out dan melanjutkan tour di Pulau Samosir menggunakan kapal feri menuju desa Tomok dan desa Ambarita.

sunrise Danau Toba
Waktu berangkat dari Parapat menuju hotel, tidak ada kesempatan untuk menikmati keindahan danau toba karena matahari sudah mulai ditelan bumi, hanya bisa menikmati sunset dari kapal feri. Maka dari itu perjalanan menuju desa Tomok dan Ambarita kami pergunakan sepuasnya menikmati keindahan danau toba yang luaaarrrr biasaaa keren abis.




Peninggalan Raja Siallagaan

Masuk ke wilayah peninggalan Raja Siallagaan yang ada di desa Ambarita terdapat rumah adat batak, berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu, bangunannya ditopang tonggak-tonggak kayu yang berfungsi sebagai pilar utama, batang-batang kayu dibuat saling mengunci dengan pasak yang langsung dipahat pada bagian kayu, sehingga bangunan tersebut bisa berdiri dengan kokoh. Bagian depan rumah dihiasi ukiran yang disebut Gorga,  terdiri dari 3 warna yaitu putih, merah dan hitam. Terdapat berbagai ornamen seperti benda-benda khas antara lain ornamen yang dinamakan gaja dompak, singa-singa, pane nabolon dan dila paung, ornamen ini diyakini berfungsi untuk menangkal roh jahat atau gangguan ilmu gaib yang mau masuk kedalam rumah. Kemudian ada ukiran berbentuk payudara yang melambangkan kesuburan, kehidupan, kasih sayang dan kekayaan, dan ukiran binatang cicak yang merupakan simbol orang Batak, maknanya adalah diharapkan mampu hidup, menempel, merekat, merayap, menyelamatkan diri, bertahan dan mengecoh lawan dimanapun berada.




Bukti peninggalan sejarah lainnya adalah batu kursi yang ditempatkan pada dua lokasi sesuai dengan aturan dan fungsinya. Batu Kursi pertama berada di area rumah adat dibawah pohon kayu Habonaran, ditempatkan di tengah area sebagai tempat rapat-pertemuan Raja dan Ketua Adat untuk membicarakan berbagai peristiwa kehidupan warga, mensosialisasikan peraturan hukum adat-istiadat, juga menjadi tempat persidangan atau tempat mengadili sebuah perkara kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, pemerkosaan dan sebagainya. Batu Kursi kedua terletak dibagian luar rumah adat, terdapat beberapa kursi untuk Raja, para Penasehat Raja, tokoh adat, dan masyarakat yang ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati. Penjahat dibawa oleh hulubalang raja ke tempat eksekusi dengan mata tertutup menggunakan Ulos kemudian  ditempatkan diatas meja batu besar. Sebelum eksekusi dilaksanakan, eksekutor akan menanyakan permintaan terakhir dari sang penjahat, bila tidak ada, eksekutor akan menanggalkan semua pakaian dari tubuh penjahat dan mengikat tangannya ke belakang.

kursi batu yang ada didalam area rumah adat
kursi batu diluar area rumah adat
ini ito guide lagi demonstrasi pemenggalan kepala
Makam Raja Sidabutar
Selanjutnya menuju desa Tomok, terdapat makam Raja Sidabutar, masuk ke area makamnya diharuskan memakai kain ulos yang sudah disediakan, gratis tinggal pilih mau warna apa, ini dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada beliau. Penjaga makam mulai menerangkan, bahwa makam berupa peti batu yang bagian depannya dipahat seperti wajah manusia itu melambangkan Raja Sidabutar, dibelakangnya ada pahatan kepala manusia sedang duduk menunjukkan Boru Damanik yaitu permaisurinya, sementara pahatan dibawahnya merupakan Panglima Guru Saung Lang Meraji yang berhasil mendapatkan 2 ekor gajah untuk membayar mahar perkawinan Raja Sidabutar dengan Boru Damanik. Selain makan raja, juga  terdapat makam-makam keturunan dan ajudan Raja. 


Selain makam Raja, kita juga bisa menjumpai patung Sigale-gale yaitu sebuah boneka kayu yang bisa digerakkan untuk menari. Patung ini dibuat pertama kali atas perintah Tuan Rahat seorang raja kaya raya untuk mengenang Manggale yaitu anaknya yang pergi ke medan perang. Patung yang diberi nama sigale-gale ini kemudian ditempatkan di Sopo Balian, ketika Manggale meninggal patung sigale-gale dijemput untuk menari disamping jenazahnya. Mulai saat itu tarian patung sigale-gale selalu ada setiap seorang Raja kehilangan keturunannya dan sekarang sigale-gale juga menari buat pasangan yang belum mendapatkan keturunan. Sayangnya saya kurang beruntung tidak bisa nonton pertunjukan sigale-gale, pas nyampe, pertunjukannya baru selesai :( telaaattt ahh


Selesai wisata sejarahnya, langsung beredar cari oleh-oleh ;) kios-kios yang berjajar di kiri kanan jalan menjual aneka macam barang dagangan, seperti pakaian, aksesoris, ulos , tas, dan ukiran khas Batak.  Jangan ragu menawar, ulos dari harga 250ribu bisa ditawar sampai 50ribu *ini harga tahun 2013*.

Selanjutnya kita akan kembali ke Medan, masih menggunakan bis yang sama tapi jalan yang berbeda, lewat tempat termahal di Indonesia versi monopoli.

                                                                                                                                                  next


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...