Translate

My photo
sudah pasti isinya bukan kumpulan informasi dan tips, hanya berbagi cerita saja jika bermanfaat alhamdulilah jika menyinggung mohon maaf

Thursday, April 11, 2013

Day 2 : Menjelajah Seoul dengan sepatu baru

Hari kedua harusnya kita berangkat ke Nami Island tempat  syuting film korea "Winter Sonata" tapi ketinggalan bis karena kami heboh foto-foto dulu di sekitar hotel saking senengnya liat tumpukan salju di jalan, di atas mobil, di gedung, di pohon pokoknya pagi itu sekitar hostel terlihat sangat bagus banget #maklum baru pertama liat salju secara langsung# Akhirnya destinasi di rubah kita sepakat untuk mengunjungi istana dan perumahan tradisional yang ada di Seoul. Wehhh padahal sengaja udah pakai sepatu yang baru saya beli di Myeongdong buat bergaya di Nami Island.


Tempat yang pertama adalah Bukchon Hanok Village, sebuah desa yang rumahnya masih bergaya tradisional di sebelah utara kota Seoul, lokasinya ada di lereng gunung, mencapai tempat ini saya lupa karena sepanjang perjalanan tidur, yang saya ingat jalan kaki menuju tempat ini bener-bener jauh banget apalagi dengan sepatu baru hak 5 cm bener-bener kerasa jauhnya. Sampai di tempat tujuan akan terlihat deretan rumah tradisional dan jalannya agak menanjak, lumayan bikin pegal kaki. Jalan-jalan saat winter itu ga bisa maksimal soalnya harus menghadapi hawa dingin yang super edan, kami cuma sampai di jalan kecil deretan perumahan ngga sampai ke rumah yang dibuka untuk turis katanya di rumah tersebut bisa melihat seisi bangunan dan keadaan didalam rumah #sayang sih tapi nyerah deh#

jalan menanjak menuju Bukchon Hanok Village ini lumayan melelahkan
Bukchon Hanok Village
ngajak foto-foto dulu padahal pengen istirahatin kaki yang sering kram
Saat dingin yang ada dalam pikiran kami adalah...sup panas atau minuman hangat yang mengalahkan niat kami jalan di Seoul untuk menikmati bangunan tradisional Korea. Yang kami cari adalah sup ayam ginseng Samgyetang. Mencari sup ini lumayan harus berjuang keras selain karena kakiku mulai sering kram dari rumah tradisional Bukchon Hanok kami putar-putar mencari resto yang menjual sup ini, tanya sama polisi wisata juga tetep ga ketemu padahal sama mereka udah di bikin peta secara detai akhirnya ada pejalan kaki yang bersedia mengantar kami, duhhh baek banget...ternyata restonya emang ada di gang sempit jadi mana mungkin kami temukan. Hampir semua pesan yang sama dengan saya, dengan harga 10.000 won cukup mengenyangkan perut sampai besok soalnya porsinya buat dua orang tapi rasanya tetep hambar !!!

foto depan resto bersama orang yang sudah dengan baik hati mengantarkan kami sampai depan pintu resto yang jual Samgyetang, hurufnya aja ga ada yang kami mengerti sampai kiamat juga ga akan tahu dia jual makanan yang kami cari kalau ga nanya
akhirnya bisa selonjoran, mengistirahatkan kaki sambil makan yang hangat
Setelah merasa puas, kenyang dan hangat kami lanjutkan perjalanan ke The National Folk Museum of Korea, kakiku sudah teriak karena ga kuat lagi menyangga berat badanku tapi saya diam saja malu sih udah tau trip ini banyak jalan kaki malah pakai sepatu berhak tinggi, bloon :f: Museum ini terletak di halaman istana Gyeongbok, gratis, baru bayar kalau mau masuk ke istana Gyeongbok tapi kayanya kami memilih tidak masuk, kalau saya sih alasannya karena kakiku sudah tidak kuat jadi pengen cepat-cepat selesai, sementara mereka maunya pergi ke Insandong secepatnya buat shoping. Menurut mereka pasti isi istana ga jauh beda dengan yang ada di museum padahal menurut mang google istana Gyeongbok ini merupakan istana tertua peninggalan dinasti Joseon yang patut kita kunjungi. Ya sudah saya sih nurut aja, kalau bukan karena sepatu baru ini pasti saya bersikukuh buat masuk ke istana.
The National Folk Museum of Korea
suka banget deh bisa merasakan salju sebanyak ini, subhanalloh
Dari The National Folk Museum of Korea menuju Insandong kalau lihat di peta terlihat dekat, belok kanan dari museum lalu di persimpangan belok kiri, karena saya ini ga bisa baca peta tentunya seneng banget karena merasa dekat tapi ternyata hmmm jauh bener. Kalau bukan karena ni sepatu saya akan sangat menikmati setiap bagian dari kota Seoul yang kami lewati dalam perjalanan menuju Insandong.

perjalanan menuju insandong yang sangat menyakitkan
Sesampainya di Insandong mulai deh mata kami laper, semua tas yang di pajang bagus-bagus, jaketnya keren-keren, sepatunya oke dan pernik-perniknya lucu-lucu, tiba-tiba kakiku yang sakit jadi ga kerasa sakit lagi, ajaib bisa sembuh secara tiba-tiba :f: Menurut mang google pernik-pernik buat oleh-oleh harganya lebih murah di Namdaemun market maka saya hanya beli kaos yang katanya kalau di Namdaemun kaos yang dijual kualitasnya jelek. Setelah 4 jam di Insandong akhirnya waktunyan pulang, duh senengnya...tapi bawaan saya ko jadi banyak ya, tambah berat deh, apalagi dengan naik turun tangga di sub way bener-bener menyiksa, beban di kakiku semakin berat dan terus-terusan kram, melangkah saja sudah susah dan sakit banget, jadilah saya orang paling terakhir dalam barisan kami malah selalu ketinggalan jauh. Duhhhh Sepatu baru !!!

Insandong
pertokoan di Insandong
jalan kaki seharian dengan boot hak 5 cm adalah hal yang paling bodoh yang pernah saya lakukan, tanpa hak aja beban kaki imut mungil ini menopang berat badan 55 kg udah kewalahan apalagi harus jinjit, berontaklah si kaki



back                                                                                                                                            next



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...