Translate

My photo
sudah pasti isinya bukan kumpulan informasi dan tips, hanya berbagi cerita saja jika bermanfaat alhamdulilah jika menyinggung mohon maaf

Thursday, January 17, 2013

Merasakan Sensasi Caving di Luweng Jomblang dan Luweng Grubug

Janji setelah pulang dari Bandung mo share liburan di Jogja waktu long weekend di bulan nopember kemaren, ternyata baru terlaksana hari ini karena pekerjaan akhir tahun benar-benar menyita waktu, tenaga dan pikiran. Sekarang semua tugas saya di 2012 sudah selesai jadi bisa kembali cerita soal perjalanan hidup saya #emang siapa yang mau tau ya :f: biar ah ini buat journal pribadi ko, kalau udah pensiun ga ada kerjaan kan bisa tuh buka-buka blog ini, mengenang masa muda :h:
cahaya surga
Sesuai dengan itinerary yang sudah dibuat bersama ketiga teman saya, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Goa Jomblang atau buat masayarakat Gunung Kidul dikenal dengan nama Luweng Jomblang. Goa ini terletak di Desa Jetis Kec. Semanu Gunung Kidul Jogyakarta. Kalau takut nyasar tinggal aktifin GPS ke Ds Semanu,  kalau sudah melewati kantor PLN yanga ada disebelah kanan coba tanya sama penduduk arah menuju Luweng Jomblang atau cari STM Semanu terus belok kanan, lurus, nanti ada plang kecil bertuliskan Jomblang lalu belok kiri *semoga ngga nyasar ya

Kondisi jalan menuju Gunung Kidul sampai ke Desa Semanu memang bagus tapi dari Desa Semanu ke Goa Jomblangnya lumayan agak merepotkan apalagi kalau bawa kendaraan sedan seperti temenku, sampai penumpangnya disuruh turun dulu :f: karena batunya besar-besar dan naik turun pula. Padahal sebelum berangkat saya udah kasi tau sedannya jangan dibawa, lebih baik berangkat dengan mobil sewaan tapi dasar orangnya emang ngeyel dikasi tau malah nantang.

Sampai di lokasi resort Jomblang tidak terlihat ada aktifitas apa pun alias ga ada orang kecuali kami bersembilan, 8 orang dewasa 1 anak umur 5 tahun, sepi banget, mulai deh banyak komen-komen yang keluar dari mulut 8 orang ini sementara Rafi anaknya temenku malah seneng cari buah jambu mete yang berserakan di tanah, "apa mungkin tempatnya tutup, apa salah alamat, lo udah bilang belum qt mo dateng hari ini" dan masih banyak lagi komen-komennya. Setelah akang menghubungi CP pengelolanya, kami disuruh menunggu, tidak berapa lama seorang laki-laki umur 30an menyambut kami dia memperkenalkan diri sebagai Puri kemudian mengantar kami ke sebuah bangunan Joglo dimana sudah disediakan air teh dengan gula batunya. Resort Jomblang ini tempatnya menurut saya nyaman apalagi kamar mandinya, ga berasa seperti di pedesaan, meskipun wilayahnya terlihat tandus tapi resort ini ditanami banyak pohon jadi terlihat asri.  Ada 5 bangunan bungalo dan 1 bangunan joglo, buat saya sih agak serem, dibayar berapapun ogah deh nginep di resort ini.

Resort Jomblang

suka banget sama kamar mandinya, mengingatkan saya saat ngecamp di tanakita

Setelah menunggu 30 menit, mas Puri mengajak kami turun daaaannnn tampaklah mulut goa Jomblang yang lebaaar banget katanya sih berdiameter 40 m dengan kedalaman 60 meter, bikin si Ari dan istrinya Wuri mengurungkan niat untuk turun :f: sementara anaknya Rafi yang berusia 5 tahun semangat banget pengen turun. Disekitar mulut goa sudah banyak orang-orang yang menunggu padahal dikira di tempat itu cuma ada kami bersembilan, mereka adalah orang-orang yang akan membantu  dalam mempersiapkan perlengkapan caving, membantu menurunkan dan menaikan dari goa, serta mempersiapkan makan siang kami. Mereka membantu memasangkan perlengkapan untuk caving seperti harness dan alat pendukung lainnya yang ga taulah apa namanya #udah dijelaskan sama akang juga tetep lupa# buat orang yang seneng tantangan bisa nyoba turun dan naik tanpa ditarik yaitu dengan mengandalkan kemampuan SRT single rope teknik atau menggunakan satu tali untuk naik dan turun. Kalau kita sih milih ditarik, kan ini lagi liburan berarti cari senangnya daripada susahnya :f: Selama kami sibuk dipasangkan perlengkapan, ari dan istrinya masih berdebat antara turun dan tidak :f: tapi akhirnya mereka memutuskan turun setelah kami paksa.  Yang pertama turun adalah orang yang paling takut dulu, Ari, disusul Joe dan Rafi, saya dan Wuri, Mba Wie dan temennya, terakhir akang. Buat yang berat badannya agak lumayan berlebih mereka turun sendiri kalau yang berat badannya ideal kaya saya #jangan protes# turunnya berdua biar cepat.

Goa Jomblang kedalaman 60 m diameter 40 m, si Ari yang ngukur tuh :f:

kiri atas adalah Rafi anak 5 tahun yang ga kenal takut ga kaya bapaknya :f:, kanan atas saat dipasangkan perlengkapan caving, kiri bawah para penelusur goa dadakan, yang kanan bawah itu pemain utamanya hehe

Saya ini adalah orang yang parno dalam ketinggian, perasaan saat turun deg-degan banget, was-was, lutut dan tangan kayanya gemeter, dalam hati berdoa terus supaya tu tali ngga putus ditengah jalan, rasa takut ga boleh saya perlihatkan karena turun bersama mba Wuri istrinya Ari, kebayangkan kalau dia liat saya ketakutan pastinya dia lebih ketakutan lagi apalagi tadi saya merayu mereka dengan gaya yang so berani :f: Saat turun ga berani liat ke bawah takut pusing dan takut berasa kaya ditarik magnet ke bawah yang bisa bikin mual, melihat hanya bisa sejajar mata saja, yang terlihat adalah akar-akar pohon yang menjuntai, daun dan ranting.

10 menit berasa setengah jam menuruni tebing goa :f: saat sampai di bawah legaaaa rasanya, akhirnya kaki ini bisa menginjak tanah lagi, di dalam goa Jomblang ini terdapat sebuah hutan purba dimana terdapat berbagai macam jenis pohon yang sudah tumbuh ratusan tahun, Subhanalloh ya, kalau liat pemandangan diatas terutama sepanjang jalan menuju tempat ini dimana daerahnya terlihat tandus tapi dibawah tumbuh subur pepohonan.

Setelah semua sudah berada di bawah, kami mulai melanjutkan perjalan menuju sebuah mulut goa yaitu goa Grubug, berarti ada goa didalam goa dong ya :c: buat yang tidak berpengalaman seperti kami, menuju goa Grubug ini memang harus masuk dari mulut goa Jomblang karena Jomblang dan Grubug ini terhubug lewat jalan setapak kurang lebih sekitar 400 m, tapi buat yang udah berpengalaman dalam caving dan SRT bisa langsung masuk dari mulut goa Grubug yang memiliki diameter 12 meter dengan kedalaman 90 meter, di goa ini juga katanya ada cahaya surga itu, hmmm berarti selama ini cahaya surga itu bukan ada di goa Jomblang ya tapi ada di goa Grubug, bener ga sih ???

mulut goa Grubug lewat dari Goa Jomblang

Mulut goa Grubug, kalau yang sudah berpengalaman caving diperbolehkan turun langsung dari mulut goa ini

mariii qt mengexplore gua ini
Sepanjang jalan menuju Goa Grubug kita akan disuguhi batu-batu kristal, stalagtit, dan stalagmit. Buat saya tempatnya agak serem karena gelap, berasa ada yang merinding, eh iya selama didalam goa perlengkapan caving kita ga boleh dilepas untuk keselamatan terutama safety helmet dan headlamp, kita ga tau kan kalau tiba-tiba ada stalagtit yang jatuh dan kita juga ga bisa lihat kalau ga dibantu senter atau tersandung staglakmit. Berjalan sekitar 400 m kita akan menemukan sebuah batu yang terbentuk dari tetesan air yang disinari cahaya dari mulut goa Grubug, kebayang ga tu batu jadi bersinar banget, jadi terlihat sangat cantik, makanya dikatakan cahaya dari surga kali ya, Subhanalloh....

Dibawah stalagmit itu juga terdapat aliran sungai sayangnya kalau liburan sama suami banyak ga bolehnya #karena khawatir# jadi yang tadinya pengen banget merasakan air sungai di dalam goa cuma bisa menikmati lewat telinga #suara air mengalir# tapi ga apa apa yang penting saya akhirnya bisa meraih mimpi menginjakkan kaki di Goa ini :c: mimpi yang sempat tertunda malah mungkin sempet hampir tidak bisa diraih karena kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Alhamdulilah Allah masih memberi saya kesempatan menikmati salah satu karya agungNya. 








Selain menikmati batu cantik dan cahaya surga di Goa Grubug, makan siang kami juga ternyata disediakan ditempat ini, ternyata barang yang pemandu kita bawa itu adalah makan siang kita, haduuhhh makasaih banget ya udah cape-cape bawain makanan kita dari atas. Setelah Kenyang dan puas berfoto kami kembali menuju Goa Jomblang, menunggu lagi antrian untuk naik ke atas, kali ini yang berat dulu yang harus naik supaya meringankan beban mereka yang menarik kami. Kalau untuk naik kami ditarik satu persatu, kalau turun kan tadi berdua biar cepat, buat yang takut kaya Ari dan mba Wuri pasti dikerjain :f: dibiarkan menggelantung lebih lama ditengah-tengah, jadi lucu karena dengar mereka teriak dan memaki mas Puri biar cepat diangkat tapi was-was juga karena takut giliran kita akan menggelantung juga ditengah jurang.

orang-orang yang sudah membantu kita menelusuri Goa Jomblang dan Goa Grubug, kiri atas adalah mas Puri yang super jail, kanan atas saat kami dibantu waktu naik, kiri bawah ibu-ibu yang sudah menyiapkan makan siang kami, kanan bawah pemandu gua kami #lupa namanya, maaf#

Sampai diatas rasanya sama seperti saat menginjakkan kaki di bawah, legaaa cuma bedanya ada campur rasa senangnya juga karena semua sudah berakhir. Buat saya pribadi, maaf ni ya kalau kurang sependapat, batu diterangi cahaya surga di Goa Grubug ini memang cantik, karya agung Sang Pencipta, hal yang sangat sederhana tapi menghasilkan keindahan TAPI yang paling mengesankan bukan cahaya surganya melainkan  rasa tegang saat turun 60 m ke Goa Jomblang, saat melihat rasa takut teman-teman kecuali akang tentunya, melihat anak kecil yang bisa menaklukan rasa takutnya, dan lebih banyak ketawanya daripada lelahnya. Benar-benar pengalaman yang sangat menarik dan tidak terlupakan, bahkan sampai saat ini kalau kami bertiga kumpul selalu dibahas tentang sensasi saat menjelajah goa ini.




back                                                                                                                                            next



















No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...